<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Indonesian Backpacker Community</title>
	
	<link>http://www.indobackpacker.com</link>
	<description>Just another Option</description>
	<pubDate>Tue, 19 May 2009 21:00:45 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/indobackpacker/SYIE" type="application/rss+xml" /><item>
		<title>Berwisata &amp; Berburu Foto di Waduk Riam Kanan Kalsel</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/indobackpacker/SYIE/~3/G5OcAZTpOUc/</link>
		<comments>http://www.indobackpacker.com/2009/05/berwisata-berburu-foto-di-waduk-riam-kanan-kalsel/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 20:54:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kalimantanku</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Ekowisata / EcoTourism]]></category>

		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Petualangan]]></category>

		<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<category><![CDATA[banjarmasin]]></category>

		<category><![CDATA[borneo]]></category>

		<category><![CDATA[kalimantan]]></category>

		<category><![CDATA[kalsel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indobackpacker.com/?p=1094</guid>
		<description><![CDATA[
Kemolekan wajah nusantara kembali saya temui di Kalsel.Tepatnya di Desa Aranio Kabupaten Banjar.Nama objek wisata yang saya kunjungi kali ini adalah Waduk Riam Kanan.Bagaimana saya tidak terpesona, jika disana banyak sekali objek menarik yang sayang untuk tidak dinikmati.Apalagi tidak diabadikan melalui kamera.
 
Kali ini saya tidak sendiri.Ada 11 orang teman ikut berpetualang di Riam Kanan.Perjalanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/hifq72VVbG-ApddZwbnEpeykhf0/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/hifq72VVbG-ApddZwbnEpeykhf0/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/hifq72VVbG-ApddZwbnEpeykhf0/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/hifq72VVbG-ApddZwbnEpeykhf0/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Kemolekan wajah nusantara kembali saya temui di Kalsel.Tepatnya di Desa Aranio Kabupaten Banjar.Nama objek wisata yang saya kunjungi kali ini adalah Waduk Riam Kanan.Bagaimana saya tidak terpesona, jika disana banyak sekali objek menarik yang sayang untuk tidak dinikmati.Apalagi tidak diabadikan melalui kamera.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Kali ini saya tidak sendiri.Ada 11 orang teman ikut berpetualang di Riam Kanan.Perjalanan kami mulai dari Banjarmasin sekitar jam 7 Wita di pagi minggu yang sangat cerah.Kota pertama yang kami lewati adalah Banjarbaru.Di bundaran simpang empat, kami arahkan sepeda motor menuju desa Aranio.Dari bundaran itu jarak yang harus kami tempuh sekitar 25 kilometer.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;">
<p><img src="http://2.bp.blogspot.com/_64iaG8P7QDM/SfUgoZKJn2I/AAAAAAAAA5Q/RYma7otXsZo/s320/IMAG0023.JPG" alt="" /></p>
<p>Bukit-bukit terjal di kiri kanan jalan menambah cantik pemandangan.Hamparan sawah yang menghijau serta perkampungan penduduk desa yang terlihat bersahaja semakin memanjakan mata kami yang bosan dengan kehidupan perkotaan.Sesekali kami menemui jalanan sepi yang meliuk-liuk di bawah pepohonan di pinggir jalan.Sungguh sensasi yang nikmat bagi kami yang setiap hari hanya menjajal jalanan Banjarmasin yang penuh sesak laju kendaraan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Bagi yang belum pernah ke Riam Kanan, mungkin 25 kilometer jarak tempuh yang dilewati akan terasa lama.Tapi bagi saya yang memang menyukai perjalanan darat dan kebetulan saya sudah pernah ke Riam Kanan, rasanya jarak tempuhnya tidaklah terlalu lama.Justru saya sangat menikmati perjalanan tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Tiba di Riam Kanan kami harus membayar uang masuk sebesar Rp. 1500 per sepeda motor.Sangat murah bila dibanding dengan apa yang akan kami dapat nantinya.Setelah memarkir kendaraan, kami lalu mengunjungi tempat penjualan ikan hasil budidaya masyarakat sekitar.Di Banjarmasin ikan puyau dijual dengan harga Rp 20 ribuan, disini hanya dihargai Rp 10 ribu saja untuk 1 kilogram.Benar-benar murah dan jauh lebih segar.</span></p>
<p><img src="http://4.bp.blogspot.com/_64iaG8P7QDM/SfVQ6QgT5cI/AAAAAAAAA5g/bPFMQYvQob4/s320/IMAG0029.JPG" alt="" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Puas melihat-lihat transaksi jual beli antara nelayan dan pedagang ikan, kami lalu menuju pelabuhan yang disana banyak ditemui kapal (klotok) berukuran sedang.Dengan klotok itulah kami akan menikmati pesona Riam Kanan.Harga sewa yang harus kami bayar adalah Rp 100 ribu.Karena tujuan yang akan kami tempuh adalah Pulau Pinus kedua (lebih jauh dari Pulau Pinus pertama).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;">
<p>Saat diatas klotok melaju itulah pesona Riam Kanan benar-benar eksotis.Hamparan air waduk yang menghijau, perbukitan yang asri, langit yang membiru serta puluhan rumah terapung adalah paket yang ditawarkan Riam Kanan yang bisa dilihat dari dalam klotok.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;">
<p><img src="http://1.bp.blogspot.com/_64iaG8P7QDM/SfZzGT9_9fI/AAAAAAAAA6w/lAmSNqCetCI/s320/IMAG0037.JPG" alt="" /></p>
<p>Sesekali sampan kecil bermesin terlihat melaju diatas luasnya waduk Riam Kanan.Biasanya mereka membawa ikan hasil tangkapan untuk dijual ke pasar.Betapa nikmatnya kehidupan mereka, karena tinggal di tempat yang masih sangat alami.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Akhirnya perjalanan sekitar 30 menit menuju Pulau Pinus kedua berakhir.Rasanya saya tidak sabar untuk segera menjelajah tiap sudut menarik yang ada disana.Jembatan panjang yang membelah waduk adalah salah satu objek yang berhasil menarik perhatian saya untuk segera membidikan kamera.Objek menarik lainnya adalah rimbunnya ratusan pohon pinus yang menjulang tinggi di tengah waduk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Sungguh pengalaman yang tak terlupakan, berwisata bersama belasan teman yang juga lelah dengan rutinitas kerja.Saya yakin puluhan wisatawan lain yang saya temui di Riam Kanan juga merasakan hal yang sama dengan apa yang kami alami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Banjarmasin, 12 Mei 2009 </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-spacerun: yes;"> </span><span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/indobackpacker/SYIE/~4/G5OcAZTpOUc" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indobackpacker.com/2009/05/berwisata-berburu-foto-di-waduk-riam-kanan-kalsel/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.indobackpacker.com/2009/05/berwisata-berburu-foto-di-waduk-riam-kanan-kalsel/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Turki Selatan - mencicip Mediterania</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/indobackpacker/SYIE/~3/CCBw0eDi6cg/</link>
		<comments>http://www.indobackpacker.com/2009/05/turkiselatan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 20:51:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aity Meivers</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita Perjalanan]]></category>

		<category><![CDATA[Mancanegara]]></category>

		<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<category><![CDATA[mediterania]]></category>

		<category><![CDATA[turkey]]></category>

		<category><![CDATA[turki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indobackpacker.com/?p=1098</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya tujuan wisata di laut Mediterania Turki itu banyak sekali. Mulai dari selatan Istanbul kearah Bodrum, terus melewati pegunungan Taurus hingga ke Antalya dan sampai ke Alanya. Kota besar terakhir di selatan Turki adalah Adana. Semua kota-kota ini memiliki sisa-sisa kejayaan Romawi di masa lampau yang amat layak untuk dinikmati.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Cf0-O3ab-suihkSEMLrjvNFxJPc/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Cf0-O3ab-suihkSEMLrjvNFxJPc/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Cf0-O3ab-suihkSEMLrjvNFxJPc/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Cf0-O3ab-suihkSEMLrjvNFxJPc/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><p><img class="alignleft" style="margin: 10px;" title="turki1" src="http://i14.photobucket.com/albums/a328/ambarbriastuti/019_Trkei_2009-Edit.jpg" alt="" width="309" height="150" /></p>
<p>Menemukan tawaran murah meriah untuk liburan di Turki pada musim dingin di Eropa bukanlah hal yang istimewa. Inilah yang menyentil kami untuk mengambil paket liburan ke Turki Selatan, tepatnya ke daerah Side di laut Mediterania.</p>
<p>Sebenarnya tujuan wisata di laut Mediterania Turki itu banyak sekali. Mulai dari selatan Istanbul kearah Bodrum, terus melewati pegunungan Taurus hingga ke Antalya dan sampai ke Alanya. Kota besar terakhir di selatan Turki adalah Adana. Semua kota-kota ini memiliki sisa-sisa kejayaan Romawi di masa lampau yang amat layak untuk dinikmati.</p>
<p>Menjejakkan kaki di Antalya international airport di bulan Maret, kami disambut oleh dinginnya angin dan curahan hujan yang cukup deras. Suhu sekitar 12 derajat Celcius saat itu. Bus yang membawa kami ke hotel termasuk kategori sangat bagus, bersih dan modern. Jalan raya sepanjang pantai yang akan membawa kami ke Side cukup besar. Sekedar informasi, sampai saat ini di Turki Selatan belum ada jalan tol. Jalan tol di Turki baru ada di Istanbul yang menuju ke Ankara.</p>
<p>Hotel yang kami ambil pada liburan kali ini termasuk kategori club hotel yang berarti kami bebas menggunakan semua fasilitas yang ada di hotel ini. Termasuk semua makanan dan minuman yang ada (kecuali minuman beralkohol yang diimport) bisa kami konsumsi tanpa kena tambahan biaya lagi. Kebanyakan hotel di pantai Turki sudah menggunakan standard seperti ini. Sayang memang, karena menurut kami hal ini cukup ‘merusak’ pasar restoran lokal yang ada di sekitar hotel. Hotel ini terletak di Sorgun, sekitar 6 km dari Side.</p>
<p>Side sendiri adalah sebuah kota tua yang cantik. Mudah dicapai dari hotel yang kami tempati dengan menggunakan Dolmus (penulisan aslinya menggunakan koma dibawah huruf s, dibaca Dolmusch). Dolmus sendiri merupakan kendaraan umum khas Turki, seperti mini bus di Indonesia. Tarifnya pun tidak terlalu mahal. Info tambahan, harga bahan bakar di Turki per liter-nya lebih mahal daripada harga bahan bakar di Jerman!</p>
<p><img class="aligncenter" title="turkei2" src="http://i14.photobucket.com/albums/a328/ambarbriastuti/048_Trkei_2009-Edit.jpg" alt="" width="414" height="149" /></p>
<p>Side memiliki sebuah amphitheather yang kondisinya hanya setengah hancur. Jika ingin memasuki kompleks amphitheatre ini, tarifnya 6 Euro atau 12 Lira Turki. Jangan heran, Turki Selatan memang banyak sekali dikunjungi turis dari Eropa terutama dari Jerman sehingga kebanyakan orang Turki disini mengerti bahasa Jerman. Turis lainnya kebanyakan datang dari Rusia. Bagi anda yang hanya menguasai bahasa Inggris, kadang diperlukan usaha lebih jika ingin berkomunikasi dengan penduduk sini. Para penjual di Turki-pun lebih suka berjualan dengan harga Euro. Sebenarnya in imerupakan trik para penjual untuk mendapatkan keuntungan 2 kali lipat. Contohnya, saat kami ingin membeli es krim yang harganya tertera di papan dengan harga Lira. Tiba-tiba datang penjaga toko membawa papan lain yang tertera harga dalam Euro yang jelas-jelas jumlahnya sama dengan harga Lira! Serentak kami langsung balik badan dan mencari toko lain yang mau menjual es krim dengan harga Lira pada kami.</p>
<p><img class="alignright" style="margin: 8px;" title="turkei6" src="http://i14.photobucket.com/albums/a328/ambarbriastuti/008_Trkei_2009-Edit.jpg" alt="" width="170" height="225" /></p>
<p>Yang patut dilihat di Side selain amphitheater-nya tentu saja Apollo Temple yang terletak di tepi laut. Reruntuhan ini sangat indah terutama jika dipandang dari pantai lain diterangi dengan sinar matahari saat terbenam. Bagi anda yang menyukai kunjungan ke pasar lokal yang ada seminggu sekali, di Side pasar ini digelar pada hari Sabtu. Namun lokasinya tidak tepat di kota tua Side, melainkan sekitar 3 km di luar kota dekat masjid besar. Pasar di Side tidak telalu besar, namun cukup nyaman untuk cuci mata. Barang yang dijual kebanyakan tekstil mulai dari pakaian sampai sarung bantal dan taplak meja. Namun ada juga sebagian kecil yang menjual sayuran, bumbu dapur dan juga souvenir.</p>
<p>Kota lain yang terdekat dari Side adalah Manavgat. Manavgat termasuk kota modern di Turki, karena tidak memiliki reruntuhan tua peninggalan zaman Romawi. Jika anda berniat belanja, sebaiknya habiskan uang anda di toko-toko lokal disini dibandingkan di pasar yang ada tiap hari Senin dan Kamis di Manavgat. Harga yang mereka berikan sangat fair dan tertera di label, sehingga harga tersebut adalah benar-benar harga lokal.</p>
<p>Manavgat dibelah oleh sungai yang berwarna kehijauan. Di tepi sungai banyak orang menawarkan perjalanan mengarungi sungai dengan kapal yang kadang tarifnya termasuk tarif makan siang, yang tujuannya adalah menyaksikan indahnya air terjun besar di Manavgat.</p>
<p><img class="aligncenter" title="turkei3" src="http://i14.photobucket.com/albums/a328/ambarbriastuti/018_Trkei_2009-Edit.jpg" alt="" width="435" height="139" /></p>
<p>Jika sudah sampai di Turki Selatan, tentu saja kota yang tidak boleh dilewatkan adalah Antalya. Antalya memiliki pelabuhan tua yang cantik dan sangat mengundang untuk hanya sekedar duduk di tepi dinding beton-nya  sambil memandangi kapal-kapal layer yang keluar masuk pelabuhan. Antalya sendiri salah satu sisinya dilindungi oleh pegunungan Taurus sehingga memiliki klima yang lebih bersahabat dibandingkan kota lain dibalik pegunungan Taurus ini. Jika pada bulan Maret di Antalya suhunya berkisar 18 derajat Celcius, di balik pegunungan Taurus masih bersalju.</p>
<p>Bagian kota tua Antalya yang terdekat dengan pelabuhan memiliki rumah-rumah kecil di gang-gang sempit diselingi dengan toko-toko yang menjual souvenir. Hati-hati dengan para penjual kacang disini. Mereka memiliki trik memberi ‘tes’ gratis, lalu menarik tangan anda dan menyebutkan harga yang terdengar cukup baik per 100 gr. Namun saat anda meminta hanya sedikit, mereka akan langsung memenuhi kantong kertas mereka dengan berbagai jenis kacang-kacangan, cepat menimbang dan langsung menyebutkan tiba-tiba kantong tersebut berisi satu kilo kacang yang mungkin sebenarnya tidak anda inginkan! Kami sempat harus menarik urat leher dengan para penjual disini. Sayang sekali….</p>
<p>Dikarenakan dengan klimanya yang bersahabat, Antalya juga terkenal dengan produksi sayuran dan buah-buahan terutama jeruk. Rasa jeruknya hmmmm… enak sekali! Lambang dari kota inipun dihiasi dengan buah jeruk. Kami juga menyempatkan diri mengunjungi 2 dari beberapa air terjun di Antalya. Air terjun Duden terletak tidak jauh dari airport, di tepi jalan raya. Ketinggiannya 60 meter jatuh langsung ke laut. Selain itu air terjun Kursunlu yang terletak di sebuah taman yang indah dan tenang.</p>
<p>Highlight daerah ini yang tidak boleh dilewatkan adalah Theater Aspendos yang terletak sekitar 50 km sebelah timur Antalya. Amphitheater yang besar ini dibangun kira-kira pada tahun 200.Masehi Saat ini 1800 tahun setelahnya masih dalam kondisi bagus, bahkan tiap tahun di musim panas ada pagelaran teater disana. Tahun ini dipertunjukkan 2 judul yaitu Troy dan Fire of Anatolia. Aspendos memiliki kapasitas sekitar 13000 orang. Sangat mengagumkan bahwa teater kuno ini memiliki akustik yang sangat bagus. Aspendos adalah salah satu theater di Turki yang banyak dikunjungi selain amphitheater di Efesus.</p>
<p><img class="alignleft" style="margin: 8px;" title="turkei4" src="http://i14.photobucket.com/albums/a328/ambarbriastuti/046_Trkei_2009-Edit.jpg" alt="" width="326" height="183" /></p>
<p>Di dekat Aspendos ada juga salah satu sisa kejayaan zaman Romawi yaitu Aquaduct, sebuah jalan berupa jembatan tinggi dari batu sepanjang beberapa kilometer yang dulu digunakan sebagai jalan untuk memudahkan penduduk di kota untuk memperoleh air dari pegunungan.</p>
<p>Selain itu kota antik bernama Perge juga merupakan kota yang patut dikunjungi. Kota ini memiliki reruntuhan yang cukup jelas penggunaannya. Kota ini dibangun kira-kira 4000 tahun SM dan sudah memiliki kebudayaan yang sangat tinggi. Di Perge dapat dilihat adanya pemandian thermal yang sudah memiliki pemanas lantai dan aslinya seluruh bangunannya dilapisi marmor. Diceritakan bahwa para wanita harus membayar tiket lebih mahal untuk memasuki pemandian thermal ini dikarenakan para wanita selalu membawa anak-anak mereka turut serta.<br />
Selain itu ada juga sisa bangunan besar yang dulunya merupakan tempat bertemunya pada penduduk, bahkan masih ada papan permainan dari marmor yang digunakan para lelaki untuk menghabiskan waktu.</p>
<p>Masih banyak lagi yang dapat dilihat di Turki Selatan. Bagi anda yang menyukai alam dapat mengadakan trekking ke Pegunungan Taurus. Bagi anda yang suka perhiasan dan pakaian berbahan kulit, disini juga banyak pabriknya. Anda yang suka berlayar dapat memesan perjalanan dengan menggunakan kapal layar menyusuri laut mediterania. Semua tentu saja tergantung budget anda.</p>
<p><img class="alignright" style="margin: 8px;" title="turkei5" src="http://i14.photobucket.com/albums/a328/ambarbriastuti/045_Trkei_2009-Edit.jpg" alt="" width="376" height="291" /></p>
<p>Saat ini memang kami mengambil paket hotel dan penerbangan. Namun semua tour kami ambil langsung di tempat. Tidak tertutup kemungkinan untuk melakukan semua perjalanan sendiri dengan menggunakan kendaraan umum karena bus dan dolmus juga merupakan jantung transportasi masyarakat turki pada umumnya. Supir taksi juga banyak yang menawarkan jasanya untuk mengantar ke obyek-obyek wisata dan tentu saja harganya bisa ditawar. Namun menurut pengalaman kami, tawar menawar di Turki agak berbeda dengan di Asia. Mereka lebih keras dan kurang humoris dalam tawar menawar.</p>
<p>Turki dengan segala kelebihan dan kekurangannya membuat kami ingin kembali lagi suatu hari. Masih banyak yang harus kami lihat dan coba, dan tentu saja kembali menikmati nikmatnya teh turki ditemani sepotong baklava, serta menikmati kebab dan juga nasi yang dibungkus daun anggur hmmm…</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/indobackpacker/SYIE/~4/CCBw0eDi6cg" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indobackpacker.com/2009/05/turkiselatan/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.indobackpacker.com/2009/05/turkiselatan/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Meyusuri jejak episode cinta Siti Noerbaya</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/indobackpacker/SYIE/~3/wFTHLP13w80/</link>
		<comments>http://www.indobackpacker.com/2009/05/meyusuri-jejak-episode-cinta-siti-noerbaya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 20:39:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hmanginsela</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita Perjalanan]]></category>

		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Info Destinasi]]></category>

		<category><![CDATA[Romantika]]></category>

		<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<category><![CDATA[padang]]></category>

		<category><![CDATA[west sumatera]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indobackpacker.com/?p=1075</guid>
		<description><![CDATA[Padang, 23 April 2009.
Entah Apa yang ada di benak seorang sastrawan besar, Marah Roesli, di tahun 1930an ketika menulis sebuah novel terkenal Siti Nurbaya, yang jelas ketika pagi ini aku menjejakan kaki di kampung yang belakangan di kenal dengan kampung siti nurbaya, aku bisa mengerti bagaimana seorang Marah Roesli bisa menuliskannya legenda itu dengan indah&#8230;karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qU3tK0xzJnI9jQwKlDO_K7fCMXM/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qU3tK0xzJnI9jQwKlDO_K7fCMXM/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qU3tK0xzJnI9jQwKlDO_K7fCMXM/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qU3tK0xzJnI9jQwKlDO_K7fCMXM/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><p>Padang, 23 April 2009.</p>
<p><span class="insertedphoto"><span class="insertedphoto"><img class="alignleft" style="border: 0pt none; margin: 10px;" src="http://images.hmanginsela.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SfChRAoKCGoAADhCUp01/20090423-3342.JPG?et=tHMJa9QRjCWR7jv%2B44ILEQ&amp;nmid=0" border="0" alt="" width="240" height="160" /></span></span>Entah Apa yang ada di benak seorang sastrawan besar, Marah Roesli, di tahun 1930an ketika menulis sebuah novel terkenal Siti Nurbaya, yang jelas ketika pagi ini aku menjejakan kaki di kampung yang belakangan di kenal dengan kampung siti nurbaya, aku bisa mengerti bagaimana seorang Marah Roesli bisa menuliskannya legenda itu dengan indah&#8230;karena keindahan alam di sini&#8230;keindahan cinta&#8230;.subahannalah..itu saja yang bisa keluar dari mulutku.</p>
<p>Roman cinta abadi antara Siti Nurbaya dan Syamsul bahri yang terkenal kembali lewat siaran favorit TVRI di era tahun 1990, hampir seluruh orang di Indonesia pasti mengenal cerita cinta abadi ini&#8230;, tetapi barangkali sedikit orang yang sudah melihat jejak.., kampung kelahiran siti nurbaya, keindahan kampung halamannya&#8230;</p>
<p>Kampung siti Nurbaya, terletak sekitar 500 meter dari pusat kota Padang, Sumatera Barat. kampung ini sekarang dihubungkan dengan jembatan yang juga di beri nama dengan jembatan siti Nurbaya.  Memasuki kampung ini dari arah pelabuhan teluk bayur padang, kita harus melewati jembatan ini. Pemandangan muara sungai batang Arau yang di penuhi kapal kapal tradisional sangat indah sekali.</p>
<p>Melewati jembatan ke arah perkampungan, kita kan melewati lapangan sepak bola, dari situ kita harus berjalan kaki melewati rumah penduduk, naik ke atas gunung padang, menuju puncaknya dimana terdapat taman yang konon dulunya tempat bermain siti nurbaya dan makan siti nurbaya.</p>
<p><span class="insertedphoto"><img class="alignright" style="border: 0pt none; margin: 8px;" src="http://images.hmanginsela.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SfCgZwoKCGoAAB-SZL81/20090423-3366.JPG?et=zejghtp8pdimyVJGNNCpdw&amp;nmid=0" border="0" alt="" width="270" height="180" /></span></p>
<p>Jalan menanjak di gunung padang ini mungkin sekitar 2KM, saat ini sudah dibuat anak tangga. di sepanjang jalan masih terlihat benteng tempat meletakkan meriam pda zaman Jepang, tidak hanya 1 benteng tapi terdapat banyak sekali. hanya sayang meriam itu sekarang tinggal 1 saja. dan benteng2 kecil itu sekarang banyak beralih fungsi menjadi tempat penyimpanan barang oleh penduduk sekitar.</p>
<p>Sekitar 50 meter sebelum puncak , ada sebuah batu besar yang hampir menutupi jalan akses ke puncak gunung padang, kearah bawah batu ada sebuah lobang, dan anak tangga turun sekitar 20 meter ke tebing gunung, melewati lobang itulah terdapat makam, yang konon menurut masyarakat sekitar adalah makam siti Nurbaya, sebagian masyarakat setempat juga mengatakan itu sebenarnya adalah makam keramat seorang syeh. <a href="http://hmanginsela.multiply.com/photos/hi-res/upload/SfCgzAoKCGoAADDQKBg1"><span style="color: #000000;">Terlepas dari siapa yang benar.., yang jelas makam itu terletak di pinggir tebing, disudut sebuah batu besar. Sebuah tulisan di dinding batu untuk melarang berfoto atau mencoret2 nisan.</span></a></p>
<p><a href="http://hmanginsela.multiply.com/photos/hi-res/upload/SfCgzAoKCGoAADDQKBg1"><span style="color: #000000;"> </span></a><a href="http://hmanginsela.multiply.com/photos/hi-res/upload/SfCjnAoKCGoAAAwxEbE1"><span style="color: #000000;"><img class="alignleft" style="border: 0pt none; margin: 8px;" src="http://images.hmanginsela.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SfCjnAoKCGoAAAwxEbE1/20090423-3429.JPG?et=7o%2BrrmcIwLACosQ6xFRrmQ&amp;nmid=0" border="0" alt="" width="300" height="200" /></span></a><a href="http://hmanginsela.multiply.com/photos/hi-res/upload/SfCgzAoKCGoAADDQKBg1"></a></p>
<p><a href="http://hmanginsela.multiply.com/photos/hi-res/upload/SfCgzAoKCGoAADDQKBg1"><span style="color: #000000;">Setelah mengucapkan salam bagi penghuni kubur, sedikit </span></a><a href="http://hmanginsela.multiply.com/photos/hi-res/upload/SfCjnAoKCGoAAAwxEbE1"></a>penasaran karena insting photografer aku mengarahkan kameraku, dan jepret. aneh..tiga kali jepret dan tiga tiganya buram&#8230;hitam.., entah setingan kameraku yang salah karena tempat yang agak gelap di tutup rimbunan pohon, ah&#8230;sudahlah kali ke empat aku berhasil <a href="http://hmanginsela.multiply.com/photos/hi-res/upload/SfCgzAoKCGoAADDQKBg1"><span style="color: #000000;">mengambil photonya. menurut cerita syamsul bahri juga di kubur di bawah makan ini , jauh kebawah tebing mendekati laut. hanya saja kondisi tebing yg curam dan hutan yang lebat sepertinya tidak mungkin untuk turun</span></a> ke bawah, setelah istirahat sejenak, aku melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung padang, yang konon ceritanya merupakan taman bermain siti nurbaya. Pemandangan di puncak sungguh luar biasa. kita bisa melihat keseluruhan kota padang dari atas sini, atau melihat ke arah pantai bungus atau ke arah batu Malin Kundang -sebuah cerita legenda masyarakat Padang</p>
<p style="text-align: left;">Sempat duduk di atas batu besar yang terdapat di puncak ini, memandang jauh ke arah laut..indah sekali&#8230;sejenak aku membayangkan barangkali bung Marah Roesli juga duduk di batu ini saat menulis bagian cerita itu&#8230;memandang keindahan di sini. disaat sekarang aku duduk disini tidak dengan pena dan kertas, tapi dengan kameraku&#8230;menulis keindahan disini dengan jepretanku&#8230;menikmati cinta abadi yang terasa disini di hati ini dengan jepretan kameraku&#8230;</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://hmanginsela.multiply.com/photos/hi-res/upload/SfCoewoKCGoAAH6LH@s1"><img class="alignright" style="border: 0pt none; margin: 8px;" src="http://images.hmanginsela.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SfCoewoKCGoAAH6LH@s1/20090423-3463.JPG?et=u%2CyiJgThLANaOncPCZEICQ&amp;nmid=0" border="0" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<p style="text-align: left;">heski @ padang April 2009</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/indobackpacker/SYIE/~4/wFTHLP13w80" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indobackpacker.com/2009/05/meyusuri-jejak-episode-cinta-siti-noerbaya/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.indobackpacker.com/2009/05/meyusuri-jejak-episode-cinta-siti-noerbaya/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Jelajah Suku Boti - Timor Barat</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/indobackpacker/SYIE/~3/MpYcJgNxDak/</link>
		<comments>http://www.indobackpacker.com/2009/05/jelajahsukuboti/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 May 2009 01:36:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>androsa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita Perjalanan]]></category>

		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Petualangan]]></category>

		<category><![CDATA[boti]]></category>

		<category><![CDATA[nusatenggara]]></category>

		<category><![CDATA[timor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indobackpacker.com/?p=1090</guid>
		<description><![CDATA[Jelajah di Timor Barat? Apa yang menarik? Pertanyaan ini berhenti saat saya putuskan pergi ke Boti, suku asli Timor yang menolak kehidupan modern. Petualangan ini membawa saya seperti pergi ke Timor di awal abad 20 dengan bonus pemandangan alam yang menarik dan budaya serta adat Timor yang menarik.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4g1Vux3kNSvN4u6Zso4-ZSfb8IU/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4g1Vux3kNSvN4u6Zso4-ZSfb8IU/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4g1Vux3kNSvN4u6Zso4-ZSfb8IU/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4g1Vux3kNSvN4u6Zso4-ZSfb8IU/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><p>Waktu saya bimbang akan tempat penjelajahan di Timor dari Kupang, seorang teman menyarankan saya pergi ke Boti, satu suku asli Timor yang sampai sekarang menolak kehidupan dan agama modern. Suku yang terletak di satu daerah perbukitan di dekat Soe, kota di Timor Tengah Selatan (TTS), ternyata pernah saya lihat di tayangan teve sebelumnya. Akhirnya dengan bertekad bulat disertai rasa penasaran saya dan rasa bingung saudara-saudara, saya putuskan pergi menjelajahi Boti dari Kupang.<br />
<img class="aligncenter" title="d-valley" src="http://i14.photobucket.com/albums/a328/ambarbriastuti/d-valley.jpg" alt="" width="300" height="199" /></p>
<p><span style="font-weight: bold;">Penjelajahan</span><br />
Dengan menumpang satu bus saya berangkat menuju Soe, tempat perhentian sebelum tiba di Boti. Dengan menyusuri jalan berkelok-kelok, semakin lama cuaca terasa makin sejuk karena jalan membawa saya ke daerah perbukitan. Pemandangan perbukitan membuat sejuk di mata. Ternyata Timor bagian tengah terlihat subur dan cuacanya tidak sekering yang saya duga. Saya juga sempat tertawa melihat babi berteriak protes waktu diikat di belakang bus, ingin rasanya keluar dan mengambil gambar si babi malang, sayang tidak sempat. Sempat juga bingung waktu ditanya kesatuan tempat saya bertugas oleh seorang bapak yang duduk di samping saya. Halaaah, saya disangka tentara, hahahahaha.</p>
<p>Setiba di Soe, tugas pertama adalah mencari hotel atau penginapan yang layak dan murah. Dari rencana menginap di Hotel Bahagia, ternyata saya turun di Hotel Bahagia II yang agak jauh dari pusat kota, dan ternyata ada mobil UN diparkir disana, Walah sepertinya staf PBB urusan pengungsi dan Timtim masih ada di sini. Lanjut makan di warung depan hotel nasi campur dan susu kedelai yang hargaya cukup mahal untuk ukuran Timor, karena saya membayar hampir 20 ribu rupiah, Kok tidak jauh beda dengan harga di Jakarta ya?</p>
<p>Karena ingin mencari hotel yang lebih di tengah kota dan berharga lebih murah, saya mencari tukang ojek yang membawa saya berkeliling karena ternyata hotel Bahagia I sudah penuh juga dengan hotel lainnya. Akhirnya kitab suci para pengelana ciptaan Tony Wheeler (tahu kan???) menyebutkan homestay milik Pae Nope. Waktu saya telepon, seorang wanita tua menjawab dan mengatakan kamar mereka kosong, aaaaah aman untuk urusan hotel dan homestay juga terletak di pusat kota jadi mudah mencari makanan serta supermarket. Karena perlu makanan kecil serta keperluan mandi yang kurang, saya berkunjung ke pasar swalayan yang ternyata harganya tidak beda jauh dengan Jakarta.</p>
<p>Pagi-pagi disaat sedang siap-siap sarapan dan mencari info dan pemandu untuk menuju Boti, ternyata Pae Nope, sang pemilik homestay sudah pulang dan mengajak saya masuk ke rumahnya. Kebetulan sekali, selain dia ada pula para pejabat pariwisata di Soe. Wah saya berasa wartawan karena banyak reporter datang ke Boti mencari bahan berita, hahahahaha. Jadi mereka sempat pikir saya wartawan dari Jakarta. Tapi mereka akhirnya menghadiahi saya VCD tentang pariwisata di TTS.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Menuju Boti</span><br />
Dengan naik motor “laki” yang dibawa seorang pria bernama Tuan yang dikenalkan Pae Nope, saya mulai perjalanan menuju Boti. Sebelumnya tak lupa makan siang di warung Jawa yang menyajikan makanan murmer dan enak. Jalanan mulus membentang hingga satu simpang sekitar Oenlasi dimana saya membeli minuman dan istirahat sejenak.</p>
<p>Jalan mendadak berubah menjadi sangat terjal, berbukit-bukit yang membuat saya agak repot menahan badan di motor serta ransel di punggung. Untunglah pemandangan alam yang menarik menghibur saya. Setelah melewati beberapa gerbang, saya tiba di perkampungan suku Boti tepatnya di dekat tempat tinggal Kepala Suku Boti.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Tiba di Boti </span><br />
Ah, saya beruntung sekali, selain pemandu saya ternyata bisa bahasa setempat, ternyata saya datang saat mereka berkumpul secara adat. Adat suku Boti mewajibkan mereka berkumpul setiap hari kesembilan dan disanalah saya berkumpul bersama melihat para tetua pria berbincang-bincang dan para wanita berkumpul untuk menenun. Mereka bahkan datang dari desa-desa yang jauh, bahkan hingga 2 jam untuk berkumpul.</p>
<p>Pakaian orang Boti, meskipun hampir semuanya sudah terbiasa memakai kaus atau kemeja modern tapi mereka tetap teguh memakai kain tradisional melingkari pinggang dan kepala mereka. Kain tradisional yang mereka tenun sendiri tapi ternyata ada juga seorang ibu yang memakai kain batik juga :-P.</p>
<p><img class="aligncenter" title="eldery boti" src="http://i14.photobucket.com/albums/a328/ambarbriastuti/d-elders-in-Boti.jpg" alt="" width="300" height="199" /></p>
<p>Saya sempat kaget ternyata Kepala Suku tidak bisa bahasa Indonesia, untunglah anggota suku lainnya bisa berbahasa Indonesia dan ternyat mereka cukup ramah. Saat melihat buku tamu, walaaah banyak benar tamu mereka dari dalam dan luar negeri. Tapi jarang ada tamu dari Jakarta seperti saya, hehehehe. Sempat saya ditanya kepala suku agar saya tidak takut pergi sendirian ke Boti, walah kalau takut buat apa berangkat. Rombongan yang datang rata-rata berkelompok dan harus memakai mobil khusus 4 WD karena jalan yang aduhai menuju Boti</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Malam yang syahdu</span><br />
Di sore hari para tetua pulang ke rumah masing-masing, suasana makin gelap dan saya baru sadar listrik telah masuk ke rumah kepala suku, yang ternyata disumbangkan dinas pariwisata setempat, tapi tetap saja suara binatang membuat malam terasa lain sekali jauh dari kota.</p>
<p>Pada saat pertama datang, saya tidak berani mencoba sirih. Maklum belum pernah dan takut tidak kuat, akhirnya malah mencoba keripik singkong yang entah mereka beli dimana. Malam itu makan malam terasa nikmat dengan jagung bose, singkong tumbuk, nasi putih, kerupuk dan ayam (kampung) sayur. Saya bahkan suka sekali dengan sambal bubuk mereka yang rasanya enak.</p>
<p>Waktu malam semakin larut, saya sempat berbincang panjang lebar dengan seorang pemuda Boti. Dari hama tanaman di ladang seperti monyet dan kakaktua. Monyet disana bahkan dapat mencabut singkong dari tanah dan akhirnya orang Boti memelihara anjing untuk mengusir monyet pengganggu.</p>
<p>Malam itu diantar suara alam yang bersahutan, ditemani lampu minyak yang temaram, saya bisa tidur dengan nyenyak sendirian di kamar guest house. Suara angin, serangga, hingga suara ternak membentuk satu konser nyanyian alam yang indah.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Selamat pagi</span><br />
Setelah disegarkan dengan sarapan singkong rebus, kopi dan keripik pisang, saya berkeliling melihat rumah mereka. Khas sekali rumah mereka, dibuat dari gewang, semacam pohon lontar. Dinding rumah dibuat dari daun pohon gewang, tidak seperti bambu di Jawa. Atap rumah dibuat dari ijuk. Gewang, pohon khas Timor, memang banyak gunanya.</p>
<p>Lopo, rumah tradisional Timor, masih digunakan di Boti seperti daerah Timor lainnya. Bentuknya unik, tanpa jendela dan berpintu rendah.</p>
<p>Hari itu saya juga sempat melihat mereka menenun yang hasilnya mereka pakai sendiri dan mereka jual. Tenun ikat mereka indah, warnanya unik. Proses tenun dimulai dari saat mereka memintal benang, mencelup warna hingga akhirnya menenun yang mereka lakukan bersama-sama.</p>
<p><img class="aligncenter" title="weaving family" src="http://i14.photobucket.com/albums/a328/ambarbriastuti/weaving-family.jpg" alt="" width="300" height="199" /></p>
<p>Sebenarnya masih banyak yang saya mau lakukan, dari pergi ke ladang mereka yang letaknya berjam-jam berjalan kaki sampai mencari burung kakaktua namun sayang waktu membatasi.</p>
<p>Sebagai penggila foto, saya sempat memfoto orang-orang Boti dan sempat berjanji akan mengirimkan foto kepada mereka disana sepulangnya saya dari Boti. Album foto di rumah kepala suku bahkan berisi foto-foto karya Photo voices yang mengadakan photo hunting disana. Bahkan ucapan terima kasih dari beberapa stasiun teve dapat juga dilihat di buku tamu yang tebal</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Pulang</span><br />
Setelah makan siang, diantar motor “laki” kembali, saya pulang dengan menuju Oenlasi. Lagi-lagi sempat repot dengan jalanan yang aduhai meski pemandangan alam cantik tersaji di depan mata.</p>
<p>Ternyata tidak perlu lama menunggu di Oenlasi untuk mendapatkan bus menuju Kupang. Sempat saya tergoda menjelajah bagian lain dari TTS hingga Timor Leste namun apadaya waktu terbatas dan lupa membawa paspor. Sepertinya jika Tuhan mengijinkan saya akan mengulangi perjalanan ini di TTS.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Catatan</span> :<br />
- Suasana TTS sejuk, tidak panas seperti anggapan orang tentang Timor<br />
- Orang Timor tidak mempunyai budaya menjual makanan jadi sangat sulit mencari warung makan disana, kalaupun ada yang menjual biasanya adalah orang Jawa atau orang pendatang<br />
- Banyak orang Boti bergigi merah karena biasa menguyah sirih.<br />
- Hanya Telkomsel yang bisa dipakai menjelajah Timor Barat (bukan iklan lho)<br />
- Orang Boti memegang teguh adat diantaranya dengan tidak memeluk agama modern. Sampai sekarang kepercayaan asli tetap mereka pegang<br />
- Budaya Indonesia itu kaya sayang sekali kalau kita tidak tahu budaya sendiri.</p>
<p>Akhir kata, selamat menjelajahi Indonesia !!!!!</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/indobackpacker/SYIE/~4/MpYcJgNxDak" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indobackpacker.com/2009/05/jelajahsukuboti/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.indobackpacker.com/2009/05/jelajahsukuboti/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Tips Traveling Murah di Jepang</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/indobackpacker/SYIE/~3/MOYWDzfwM6E/</link>
		<comments>http://www.indobackpacker.com/2009/03/tips-traveling-murah-di-jepang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Mar 2009 03:12:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>el01173</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Mancanegara]]></category>

		<category><![CDATA[New Article]]></category>

		<category><![CDATA[Travel Tips]]></category>

		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indobackpacker.com/?p=1028</guid>
		<description><![CDATA[by Ronald Alexander Indra

Gambar:  Kinkakuji (Kyoto)
Sebagian diantara kita mungkin sering mendengar bahwa Jepang adalah negara termahal di dunia. Masalah yang mungkin timbul jika kita ingin backpacking ke Jepang, bagaimana cara mensiasati agar budget backpacking di Jepang bisa ditekan. Berikut ini beberapa tips untuk menekan budget selama backpacking di Jepang. 
 

Transportasi

 Seishun 18 kippu (baca: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/KcUYb3E1AKL74xPD1KAjeQTHQPw/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/KcUYb3E1AKL74xPD1KAjeQTHQPw/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/KcUYb3E1AKL74xPD1KAjeQTHQPw/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/KcUYb3E1AKL74xPD1KAjeQTHQPw/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><p>by Ronald Alexander Indra</p>
<p><span style="color: #000000; font-size: small;"><span class="insertedphoto"><img class="alignmiddleb" src="http://images.el01173.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SXjXJQoKCDEAAEDdKcI1/Kyoto.JPG?et=oJRSDyzpFArWGJ05QAryZw&amp;nmid=0" border="0" alt="" /></span></span></p>
<p>Gambar:  Kinkakuji (Kyoto)</p>
<p><span style="color: #000000; font-size: small;">Sebagian diantara kita mungkin sering mendengar bahwa Jepang adalah negara termahal di dunia. Masalah yang mungkin timbul jika kita ingin backpacking ke Jepang, bagaimana cara mensiasati agar budget backpacking di Jepang bisa ditekan. Berikut ini beberapa tips untuk menekan budget selama backpacking di Jepang. <span id="more-1028"></span></span></p>
<p style="font-family: arial,helvetica;"><span style="font-size: small;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;"><span style="font-size: small;"><span lang="NL"><span style="color: #000000;"><strong>Transportasi</strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;"><em><strong><span style="font-size: small;"><span lang="NL"><span style="color: #000000;"> Seishun 18 kippu (baca: Seishun juuhachi kippu)</span></span></span></strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span lang="NL">Ini adalah tiket murah buat kereta di Jepang. Bentuk fisiknya bisa dilihat di gambar berikut. </span>Tiket ini hanya dijual selama masa liburan sekolah di Jepang (libur natal/tahun baru, libur musim semi (awal maret – awal april), dan libur musim panas (awal juli – awal september). Untuk tanggal pastinya dapat dilihat di website japan-guide. Harganya 11500 yen (data August 2006) untuk 5 hari unconsecutive (jadi seharinya 2300 yen). Jangan convert ke rupiah, karena kalo diconvert jadi mahal. Di Jepang 2300 yen sehari buat semua kereta rapid + local untuk ke seluruh Jepang yang dioperasikan Japan Railways bisa dibilang sangat murah. Trade off dengan waktu. Contoh dengan shinkansen cukup 2.5 jam ke Kyoto dari Tokyo, dengan seishun 18 kippu butuh 9 jam. Tapi harganya bisa 1/5 harga shinkansen (2300 yen vs 13.000an yen)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><br />
</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;"><span style="font-size: small;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: center; font-family: arial,helvetica;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: center; font-family: arial,helvetica;" align="center"><span style="color: #000000; font-size: small;"><img class="alignmiddleb" src="http://images.el01173.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SXh5cQoKCDEAAGOZPBc1/01-18-kippu.JPG?et=q030ArC64UkWIQN83XstOg&amp;nmid=0" border="0" alt="" width="254" height="131" /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: center; font-family: arial,helvetica;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: center; font-family: arial,helvetica;" align="center"><span style="color: #000000; font-size: small;">Gambar Seishun 18 kippu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: center; font-family: arial,helvetica;" align="center"><span style="color: #000000; font-size: small;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: center; font-family: arial,helvetica;" align="center"><span style="font-size: small;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;">Tiket ini punya lima “space”/kotak yang tiap-tiap spacenya itu dicap oleh petugas di pintu masuk (manned gate) untuk ke peron. Sejak di-cap berlaku selama tanggal yang ada di cap (1&#215;24 jam). Jadi asumsikan tiket anda ada lima kotak. Contoh hari Senin pagi anda mau menggunakan 18 kippu. Anda masuk lewat manned gate, dicap petugas, dan selama hari Senin itu anda bebas kemanapun di Jepang (pakai kereta rapid/local yang dioperasikan JR). Recommended untuk backpacking dari Tokyo ke arah Barat (daerah Kansai, Hiroshima, Fukuoka, Nagasaki) </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><br />
</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;"><span style="font-size: small;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;"><span style="color: #000000; font-size: small;">Contoh pemakaian seishun 18 kippu (starting point tokyo)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;"><span style="color: #000000; font-size: small;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><em>Hari 0</em>: menjelang jam 11.43PM Tokyo – Yokohama pakai tiket biasa naik moonlight nagara. Tapi 18 kippu jangan dicap sebelum jam 12PM. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><em>Hari 1</em>: <em>satu hari 18 kippu dipakai</em>, Moonlight nagara yokohama ke Nagoya, muter-mutar di Nagoya sampai jam 4PM, lalu ke Osaka mengejar jam 10PM untuk naik Moonlight Kyushu ke Hakata (Fukuoka)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><em>Hari</em> 2: <em>satu hari 18 kippu dipakai</em> Pagi-pagi sampai di Hakata, jalan-jalan sampe sore di Fukuoka. <span lang="NL">Jam 4 / 5 sore naik kereta ke Nagasaki (sampai sekitar jam 8/9 malam).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><em><span lang="NL">Hari 3</span></em><span lang="NL">: Nagasaki</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><em><span lang="NL">Hari 4</span></em><span lang="NL">: Free, tapi kalau keluar kota nagasaki, usahakan yang dekat-dekat. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><em><span lang="NL">Hari 5</span></em><span lang="NL">: <em>satu hari18 kippu dipakai</em> Nagasaki ke Huis ten bosch/fukuoka. </span>Malamnya moonlight kyushu, </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><em>Hari 6</em>: <em>satu hari 18 kippu dipakai</em> turun di Miyajima sekitar subuh – persiapkan hati tidur di stasiun. Setengah hari ke Pulau yang ada Torii besar (sering jadi symbol promosi wisata Jepang). Seishun 18 kippu berlaku untuk Ferry JR ke pulau ini. Lalu setengah hari lagi di Hiroshima - yang bagus hanya A-bomb Dome (Gembaku Domu). Hiroshima-Miyajima itu sangat dekat. Sekitar jam 5/6 sore naik kereta ke arah Osaka, sampai Osaka malam</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><em>Hari 7-13</em>: Osaka + kota-kota sekitar Osaka (Himeji, Kyoto, Kobe, Nara)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><em>Hari 14</em>: <em>satu hari18 kippu dipakai</em> Osaka – Nagoya by regular train. Mampir ½ hari di Nagoya. Jam 4 sore naik kereta local ke Tokyo (6 jam). </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;"><span style="color: #000000; font-size: small;">Dengan rute diatas, hanya perlu 1 set 18 kippu (lima unconsecutive day). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;"><span style="color: #000000; font-size: small;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;"><strong><em><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;">Hokkaido</span> and Higashinihon Pass</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;"><strong><em><span style="font-size: small;"><br />
</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;"><span style="font-size: small;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify; font-family: arial,helvetica;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;">Mirip sama Seishun 18 kippu. Bedanya ini berlaku hanya untuk dari Tokyo ke arah utara (Tohoku + Hokkaido). Perbedaan kedua harganya 10.000 yen dan berlaku untuk 5 consecutive day. Recommended banget (dibanding seishun 18 kippu) kalau mau ke Hokkaido. Kalau di kombin</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/indobackpacker/SYIE/~4/MOYWDzfwM6E" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indobackpacker.com/2009/03/tips-traveling-murah-di-jepang/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.indobackpacker.com/2009/03/tips-traveling-murah-di-jepang/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Pantai Ambon</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/indobackpacker/SYIE/~3/AlPYIGPekME/</link>
		<comments>http://www.indobackpacker.com/2009/03/pantai-ambon/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Mar 2009 03:04:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fahrul</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pantai dan Wisata Laut]]></category>

		<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indobackpacker.com/?p=954</guid>
		<description><![CDATA[dalam rangka Lomba Karya Inovasi XI PT PLN (Persero) waktu itu kebetulan kantor PLN dmana tempat saya bekerja di tunjuk oleh direksi sebagai pengelola Forum Inovasi di lingkungan PLN dan anak perusahaan.
tahun lalu persisnya bulan 2- 5 juli 2008 saya dapat kesempatan dinas dari kantor ke PLN Wilayah Maluku dalam rangka lomba inovasi tingkat regional 2. tanpa menyia-nyiakan kesempata ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/jg5oJ8YGPXnI_17FdiP38oYFkm0/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/jg5oJ8YGPXnI_17FdiP38oYFkm0/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/jg5oJ8YGPXnI_17FdiP38oYFkm0/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/jg5oJ8YGPXnI_17FdiP38oYFkm0/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><p>dalam rangka Lomba Karya Inovasi XI PT PLN (Persero) waktu itu kebetulan kantor PLN dmana tempat saya bekerja di tunjuk oleh direksi sebagai pengelola Forum Inovasi di lingkungan PLN dan anak perusahaan.<span id="more-954"></span></p>
<p>tahun lalu persisnya bulan 2- 5 juli 2008 saya dapat kesempatan dinas dari kantor ke PLN Wilayah Maluku dalam rangka lomba inovasi tingkat regional 2. tanpa menyia-nyiakan kesempata ini saya mencuri-curi waktu jalan-jalan menikmati kota ambon,  disana saya berkesampatan jalan-jalan keliling kota ambon dengan berjalan kaki sekalian cari oleh-oleh&#8230;hehehehe cape sih tapi seru, mana waktu itu di ambon pas musim hujan yang sempet menikmati kota ambon yang hujan berkepanjangan sampai dengan beberapa hari sampe hotel tempat saya menginap hampir banjir. pantai di ambon juga tidak kalah menarik dari pantai-pantai lain yang ada di indonesia, klo teman-teman diberikan kesempatan dateng ke ambon coba untuk kunjungi pantai natsepa (klo ga salah namanya) disana sekalian juga cicipin rujak dan pisang goreng rasanya enak ditambah makanya persis dipinggir pantai, dijamin deh pasti seru &#8230;.:)</p>
<p>Fahrul</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/indobackpacker/SYIE/~4/AlPYIGPekME" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indobackpacker.com/2009/03/pantai-ambon/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.indobackpacker.com/2009/03/pantai-ambon/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Menikmati Pesona Pantai Baron, Gunung Kidul</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/indobackpacker/SYIE/~3/c9Xmqxs4ItU/</link>
		<comments>http://www.indobackpacker.com/2009/02/menikmati-pesona-pantai-baron-gunung-kidul/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Feb 2009 05:34:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Heru Hendarto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pantai dan Wisata Laut]]></category>

		<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indobackpacker.com/?p=979</guid>
		<description><![CDATA[Jenuh dengan pesona pantai Parangtritis dan Samas, masyarakat Yogyakarta biasanya akan mengunjungi deretan pantai-pantai di selatan Gunung Kidul yang menawarkan pesona alam yang lebih menarik. Deretan pantai pasir putih, angin segar yang berhembus di antara bukit-bukit gamping yang menghiasi pantai serta ombak besar yang menghantam karang di tepian sungguh nyaman untuk dipandang mata. Banyak yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/y__5P_64PpXlpUj2CVYufExc_xY/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/y__5P_64PpXlpUj2CVYufExc_xY/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/y__5P_64PpXlpUj2CVYufExc_xY/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/y__5P_64PpXlpUj2CVYufExc_xY/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Times New Roman;">
<a href='http://www.indobackpacker.com/2009/02/menikmati-pesona-pantai-baron-gunung-kidul/kukup-ndrini-krakal2/' title='kukup-ndrini-krakal2'><img src="http://www.indobackpacker.com/wp-content/uploads/2009/02/kukup-ndrini-krakal2-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://www.indobackpacker.com/2009/02/menikmati-pesona-pantai-baron-gunung-kidul/sepasang-kekasih/' title='sepasang-kekasih'><img src="http://www.indobackpacker.com/wp-content/uploads/2009/02/sepasang-kekasih-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://www.indobackpacker.com/2009/02/menikmati-pesona-pantai-baron-gunung-kidul/hendar-merona-merah/' title='hendar-merona-merah'><img src="http://www.indobackpacker.com/wp-content/uploads/2009/02/hendar-merona-merah-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://www.indobackpacker.com/2009/02/menikmati-pesona-pantai-baron-gunung-kidul/pantai-baron-dari-atas/' title='pantai-baron-dari-atas'><img src="http://www.indobackpacker.com/wp-content/uploads/2009/02/pantai-baron-dari-atas-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://www.indobackpacker.com/2009/02/menikmati-pesona-pantai-baron-gunung-kidul/muara-air-bawah-tanah/' title='muara-air-bawah-tanah'><img src="http://www.indobackpacker.com/wp-content/uploads/2009/02/muara-air-bawah-tanah-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://www.indobackpacker.com/2009/02/menikmati-pesona-pantai-baron-gunung-kidul/teluk-baron-dari-tengah/' title='teluk-baron-dari-tengah'><img src="http://www.indobackpacker.com/wp-content/uploads/2009/02/teluk-baron-dari-tengah-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
Jenuh dengan pesona pantai Parangtritis dan Samas, masyarakat Yogyakarta biasanya akan mengunjungi deretan pantai-pantai di selatan Gunung Kidul yang menawarkan pesona alam yang lebih menarik. Deretan pantai pasir putih, angin segar yang berhembus di antara bukit-bukit gamping yang menghiasi pantai serta ombak besar yang menghantam karang di tepian sungguh nyaman untuk dipandang mata. Banyak yang mengatakan bahwa keindahan pantai Parangtritis dan Samas kalah jauh bila dibandingkan dengan pantai-pantai selatan Gunung Kidul. Pantai Baron, Kukup, Krakal, Wediombo dan Sadeng adalah nama beberapa pantai yang menawarkan keindahan dengan cirinya yang berbeda-beda. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Times New Roman;">Baron, nama yang mirip dengan istilah <em>nobleman</em> dari daratan Eropa ini sudah lama terdengar gaungnya sebagai tempat wisata alternatif di Yogyakarta. Baron adalah nama pantai yang terletak di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, 23 kilometer selatan Wonosari. Wonosari sendiri adalah ibukota Kabupaten Gunung Kidul yang berjarak kurang dari 50 km dan bisa di tempuh selama 45 menit dari Yogyakarta. Kami mendatangi tempat ini untuk mengulang kembali perjalanan lama menyusuri pantai selatan Gunung Kidul yang terakhir dilakukan di akhir tahun 2002. Niatnya, kami akan menikmati suasana pantai sambil mencari momen fotografi yang indah serta mendirikan tenda bermalam di pantai ini sambil berpesta ikan bakar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Times New Roman;">Pukul 16.15 kami tiba di Baron, suasana saat itu masih dingin selepas hujan yang mengguyur semenjak siang hari. Langit mendung masih menggantung menyisakan rona kelabu di langit. Saat kami memasuki pelataran parkir, sebagian besar pengunjung dan pedagang sudah pulang sehingga suasana pantai menjadi sepi. Tidak mau ambil resiko kekurangan logistik dan kelaparan, hal pertama yang kami lakukan adalah mencari warung yang buka hingga malam dan segera memesan ikan segar dan bumbunya untuk dibakar malam harinya. “Berapa semuanya Bu?”, tanya Hendar temanku. “Tujuh puluh enam ribu semuanya Mas….,” timpal sang Ibu. “Hanya untuk minyak tanah kami ndak punya, ndak ada yang stok di sini..”, sambungnya dalam nada kesal. Oalah, ternyata karena program pengalihan energi dari pemerintah menyebabkan minyak tanah menjadi sangat langka di sini. Bahkan rakyat kecil seperti nelayan dan pedagang yang memerlukan minyak tanah untuk campuran bensin sebagai bahan bakar <em>engine</em> perahu dan untuk penyulut kayu bakar pun jadi kesulitan. Sambil tersenyum Hendar menyodorkan uang yang diminta Ibu. Harga standar untuk satu kilo lebih ikan segar, bumbu ikan bakar, nasi, sayur, telur dan dua buah minuman mineral kemasan besar beserta arang dan pinjaman pemanggangnya. Kesemuanya akan dipersiapkan si Ibu dan kami ambil saat malam menjelang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Times New Roman;">Naik ke bukit sebelah kiri pantai, kami menyaksikan keindahan Baron dari atas. Sesungguhnya, pantai ini lebih tepat disebut teluk karena posisinya yang terlindung dua buah bukit dan menjorok ke dalam daratan. Keindahan pantai Baron lebih kepada panoramanya, yang walaupun dihampari dengan pasir hitam namun lengkungan teluknya serta ombak yang menghantam di tepian bukit amat mempesona. Di sisi kanan pantai terdapat muara aliran sungai bawah tanah, membawa arus air tawar yang menyegarkan dan dimanfaatkan pemerintah sebagai pusat distribusi air bersih di kawasan itu. Secara geologi, Gunung Kidul yang berlitologi batugamping tidaklah seratus persen kering-kerontang. Di bawah datarannya yang tandus, mengalir sumber air dengan debit luar biasa yang melimpah-ruah. Satu-satunya cara untuk memanfaatkan sumber daya berharga itu adalah dengan mengeksploitasi sungai bawah tanah melalui pompa-pompa besar yang menaikkan air ke permukaan sehingga dapat dikonsumsi warga. Sekilas mata, tidak tampak batas antara campuran semburan air tawar sungai bawah tanah Baron dengan air laut Samudera Hindia yang asin. Namun, aku pernah menyaksikan citra Landsat IR yang merekam kenampakan Baron di pagi hari. Jelas sekali terlihat pada lembaran foto<span style="yes;">  </span>tersebut batas perbedaan dari rona antara air tawar dan air laut. Di pagi hari, air tawar yang keluar dari daratan bersuhu lebih dingin daripada air laut yang sudah terpanggang matahari dan perbedaan suhu inilah yang dibaca oleh sensor citra satelit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Times New Roman;">Rasa-rasanya tidak banyak yang berubah dari tempat ini semenjak terakhir aku mendatanginya di tahun 2002. Sepertinya hanya tampak lebih padat akan rumah dan warung serta tambahan berupa kehadiran sebuah menara mercu suar. Tidak seperti <em>stereotype</em> mercu suar di daerah lain, mercu suar ini berkonstruksi besi mirip seperti menara BTS dengan ketinggian kurang-lebih 80 m. Pagarnya sudah rusak sebagian dan tangga ke atas tidak terkunci. Sambil senyum-senyum aku pun menawari Hendar, seandainya dia mau naik ke atas nanti akan kupotret dari bawah biar kelihatan gagah. Tertawa mengejek, gantian dia menawari aku hal yang sama dan berhubung kami berdua masih waras akhirnya kami langsung melangkahkan kaki menuju pondok kecil di ujung tebing. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Times New Roman;">Melayangkan pandangan ke arah timur, pemandangan yang tersaji sunguh menawan. Tampak ombak laut selatan yang terkenal ganas menghantam pantai berbukit dan pecah berbuih putih menyusuri pesisirnya. Pandangan luas di sini menyajikan deretan pantai Kukup, Sepanjang, Ndrini, Krakal, dan Sundak. Sementara di bagian barat Baron terdapat tebing-tebing terjal bukit-bukit batugamping yang menjadi tempat favorit para pemancing. Lama kami menghabiskan waktu sambil menunggu matahari terbenam di tempat ini. Pandangan kami pun menyapu ke ujung laut selatan yang tiada bertepi, menyimpulkan kekaguman akan kebesaran Yang Kuasa di dalam hati. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Times New Roman;">Sebelumnya kami sempat pesimis akan mendapatkan momen <em>sunset</em> yang indah. Namun dengan sabar kami pun menunggu hingga matahari hilang di balik awan yang bergumpal. Beberapa menit setelah matahari sepenuhnya hilang di ufuk barat, aku pun berteriak :“Ndar, siap-siap lho…! Bentar lagi bakalan bagus ni <em>sunset</em>-nya..”. Kebetulan aku sudah sering mengejar <em>sunset</em> di berbagai tempat sehingga ada beberapa ciri kukenali yang biasanya akan berujung ke panorama <em>sunset</em> yang indah. Merekam s<em>unset</em> yang indah tidak hanya semata berupa momen matahari bulat yang terekam kamera, namun momen sesudahnya pun masih akan menjanjikan. Seringkali muncul rona yang menakjubkan ataupun semburat <em>ray of lights</em> di ufuk barat setelah matahari hilang sepenuhnya. Dugaanku pun terbukti, saat itu awan yang menggantung rendah berubah merona merah jingga dan langit bersih di atasnya masih memunculkan rona biru pucat. Sungguh paduan warna kontras yang menarik sehingga kami berduapun asyik memancangkan kamera menghadap ke barat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="172.15pt;"><span style="Times New Roman;">Mendekati Isya, kami turun menuju ke warung si Ibu. Setelah menunaikan sholat dan bersih-bersih, kami menyantap kelapa muda sambil menunggu ibu mengemasi pesanan kami. Tenda <em>dome</em> kami keluarkan dan sambil membawa pesanan, kami pun berjalan mencari tempat untuk <em>camping</em>. Bingung pun menghinggapi, di tengah pantai banyak sekali perahu berjejeran sedangkan di tepian tebing pantai sudah penuh oleh warung-warung semi permanen. “Masak kami mau dirikan tenda di sebelah warung kosong?”, pikirku. Akhirnya kami memilih tempat di tengah pantai di pinggir tembok pembatas taman. Sepertinya cukup luas di situ dan posisinya di atas jejeran perahu sehingga dipastikan aman dari hempasan pasang laut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="172.15pt;"><span style="Times New Roman;">Saat mendirikan tenda, dua orang bapak muda menghampiri. “ Berdua saja Mas?”, sapa mereka. Kami pun segera terlibat pembicaraan akrab sambil bersama-sama bergotong-royong mendirikan tenda. Obrolan dari jenis tenda, cara mendirikannya, waktu nelayan pergi ke laut, jenis dan harga perahu, korban keganasan ombak dan tips mengarungi lautan menjadi pengisi waktu. “Biasanya kami melaut melawan ombak pake hitungan Mas…” kata salah seorang dari mereka yang ternyata juga tim SAR setempat. “Lho, hitungan gimana Pak?”, tanyaku tidak mengerti. “Biasanya, ombak besar datang 5 kali terus disusul ombak kecil 4 kali, jadi pas 5 pertama kami rem selanjutnya 4 kedua perahu kami gas <em>pol</em>..!”, katanya dalam logat Jawa yang kental. Kami pun mengiyakan dan kagum, hal-hal yang seperti ini tidak bakalan didapat di buku manapun. “Ombak sini besar-besar Mas, terakhir dua orang hilang di Kukup, ketemu setelah dua dan delapan hari dengan badan sudah <em>protholan</em>” tambah mereka. <em>Protholan</em> adalah istilah Jawa untuk menggambarkan kondisi tubuh yang sudah tidak utuh alias sudah lepas-lepas. Tenda berdiri dan mereka pun pamit untuk beristirahat karena pukul dua pagi sudah harus bersiap-siap melaut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="172.15pt;"><span style="Times New Roman;">Dengan sigap kami membuat api dari arang dan membakar ikan yang cukup banyak tersaji. Masih tersisa dua ekor ikan bakar namun perut kami sudah tidak mampu menerima apa-apa. Segera kami pinggirkan sisa makanan dan bersantai di dalam tenda. Seperti biasa, pembicaraan kalau sedang berada di alam luar tidak lepas dari cerita mistis dan horor. Tanpa terasa, waktu berlalu dan kami segera terlelap. Sekitar pukul 00.30, aku terbangun oleh suara berisik tepat di luar tenda. Terpengaruh oleh cerita orang gila yang sering berkeliaran di situ, segera kutepuk Hendar supaya bangun. Kira-kira lima belas menit kami tegang menunggu hanya untuk mengetahui bahwa suara itu muncul dari kucing yang sedang mengais-ngais sisa ikan bakar kami, dasar! Segera kami terlelap, namun itu hanya sebagai permulaan dari mimpi burukku. Saat itu, aku merasa tiba-tiba dicekik orang. Refleks kutangkap tangannya dan kubanting dan segera aku terlibat perkelahian hebat dengan orang misterius itu dan beberapa temannya hinggaa tenda rubuh. Setelah menang, aku pun terbangun dan hanya mendapati Hendar sedang ngorok dengan damainya di sampingku, huh! Cuaca saat itu mendung dan tidak ada angin berhembus sehingga panas sekali kurasa. Hendar pun terbangun dan kami pun buka pintu tenda sehingga udara masuk dan bersirkulasi. Saat itu pukul 02.00 dan mulai banyak sepeda motor berdatangan membawa nelayan yang hendak melaut. Tanpa terasa kami pun kembali terlelap lagi dan terbangun pukul 05.00.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="172.15pt;"><span style="Times New Roman;">Pagi itu jejeran perahu nelayan sudah berkurang 2/3-nya, sehingga pantai Baron kelihatannya menjadi sangat lapang. Setelah merampungkan <em>packing</em> tenda, kami kembali naik ke bukit sisi timur pantai.Tampak beberapa nelayan masih berangkat melaut di pagi itu dan kami berharap matahari pagi segera memberikan bersit sinarnya memecah mendung pagi yang masih bergelayut ringan. Dari atas, kami pun menuruni bukit dan bergabung dengan para nelayan yang masih tertinggal di pantai. Sebagian tampak memperbaiki jala dan sebagian lagi tampak bergerombol di pinggir memperbaiki perahu mereka. Suasana pantai mulai ramai, pengunjung mulai berdatangan dan sebagian tampak membawa joran pancing di punggungnya. TPI setempat pun mulai ramai dengan pedagang yang menyiapkan keranjangnya. Ibu-ibu penjaga warung mulai menyapu halaman depannya. Sungguh <span style="yes;"> </span>terasa damai sekali pagi itu dan setelah beberapa saat menghabiskan waktu pukul 08.00 kami pun meninggalkan Pantai Baron dengan hati penuh kesan yang mendalam.</span></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/indobackpacker/SYIE/~4/c9Xmqxs4ItU" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indobackpacker.com/2009/02/menikmati-pesona-pantai-baron-gunung-kidul/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.indobackpacker.com/2009/02/menikmati-pesona-pantai-baron-gunung-kidul/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>kalimantan timur</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/indobackpacker/SYIE/~3/BEN2wfgXlSQ/</link>
		<comments>http://www.indobackpacker.com/2009/01/kalimantan-timur/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 05:51:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hendri kurniawan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[New Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indobackpacker.com/?p=863</guid>
		<description><![CDATA[hi all, salam kenal ya&#8230;&#8230; kali2 aja ada yg mo ke kaltim bs dech kontak2 saya.Saya tinggal di Tenggarong, Kukar.Tadinya jg tinggal di Bali 13 tahun, siapa tau ada yg perlu info.Eh ada ngga yg backpacker bawa anak kecil?karena saya berencana membawa anak saya jalan2.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5LMprFFHp0KCipbCEI0yu3L0X4c/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5LMprFFHp0KCipbCEI0yu3L0X4c/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5LMprFFHp0KCipbCEI0yu3L0X4c/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5LMprFFHp0KCipbCEI0yu3L0X4c/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><p>hi all, salam kenal ya&#8230;&#8230; kali2 aja ada yg mo ke kaltim bs dech kontak2 saya.Saya tinggal di Tenggarong, Kukar.Tadinya jg tinggal di Bali 13 tahun, siapa tau ada yg perlu info.Eh ada ngga yg backpacker bawa anak kecil?karena saya berencana membawa anak saya jalan2.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/indobackpacker/SYIE/~4/BEN2wfgXlSQ" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indobackpacker.com/2009/01/kalimantan-timur/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.indobackpacker.com/2009/01/kalimantan-timur/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Pgi kebali cm modal gk nyampe 1 jt</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/indobackpacker/SYIE/~3/rtq2wK7WBIU/</link>
		<comments>http://www.indobackpacker.com/2009/01/pgi-kebali-cm-modal-gk-nyampe-1-jt/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 05:50:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bandits</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[New Article]]></category>

		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indobackpacker.com/?p=850</guid>
		<description><![CDATA[sebenernya kejadian dah lama bgt. gw pgi ke bali tahun 2000. Gw anak padang. ongkos paling mahal dari padang ke jkt. gw naek bis sekitar Rp.150.000. Dari jkt gw naek kereta api sore jam 4an harga nya 30.000
nyampe jam 7 pagi di surabaya. trus pgi keterminal luar kota menuju banyuwangi. harga nya 45.000. nyampe jam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/vPvPBImlq4xxDIQue5Sm2amJmhA/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/vPvPBImlq4xxDIQue5Sm2amJmhA/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/vPvPBImlq4xxDIQue5Sm2amJmhA/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/vPvPBImlq4xxDIQue5Sm2amJmhA/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><p>sebenernya kejadian dah lama bgt. gw pgi ke bali tahun 2000. Gw anak padang. ongkos paling mahal dari padang ke jkt. gw naek bis sekitar Rp.150.000. Dari jkt gw naek kereta api sore jam 4an harga nya 30.000</p>
<p>nyampe jam 7 pagi di surabaya. trus pgi keterminal luar kota menuju banyuwangi. harga nya 45.000. nyampe jam 5an. nyebrang ke ketapang 10.000. dari ketapang naek bis 3/4 harga nya 15.000.bis terakhir jam 9 mlm ke denpasar</p>
<p>kira2 nyampe jam 2an..</p>
<p>murah kan dari padang sumtra barat ke denpasar bali..</p>
<p>kl gk salah harga nya gk terlalu mleset d</p>
<p>selamat mencoba guys</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/indobackpacker/SYIE/~4/rtq2wK7WBIU" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indobackpacker.com/2009/01/pgi-kebali-cm-modal-gk-nyampe-1-jt/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.indobackpacker.com/2009/01/pgi-kebali-cm-modal-gk-nyampe-1-jt/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Backpacking Overland Sumatera</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/indobackpacker/SYIE/~3/xkbZwXBD1t8/</link>
		<comments>http://www.indobackpacker.com/2009/01/backpacking-overland-sumatera/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 05:50:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dw_shanty</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Kota - Kota]]></category>

		<category><![CDATA[Petualangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indobackpacker.com/?p=775</guid>
		<description><![CDATA[Halo Guys.. saya akan backpacking Overland Sumatera di bulan Januari 2009 ini.. kira2 di minggu ke dua..
dan pastinya tempat yang akan kami kunjungi adalah dari Sumatera utara ke bawah - artinya (kali ini kami tidak mengunjungi NAD dulu)
kota2 yang pasti akan kami kunjungi adalah sebagi berikut :
Medan (as a starting point) - Sibolga - Bukit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Eq3b9csS_IJQ1geF_Fv2qiynIt4/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Eq3b9csS_IJQ1geF_Fv2qiynIt4/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Eq3b9csS_IJQ1geF_Fv2qiynIt4/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Eq3b9csS_IJQ1geF_Fv2qiynIt4/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><p>Halo Guys.. saya akan backpacking Overland Sumatera di bulan Januari 2009 ini.. kira2 di minggu ke dua..</p>
<p>dan pastinya tempat yang akan kami kunjungi adalah dari Sumatera utara ke bawah - artinya (kali ini kami tidak mengunjungi NAD dulu)</p>
<p>kota2 yang pasti akan kami kunjungi adalah sebagi berikut :</p>
<p>Medan (as a starting point) - Sibolga - Bukit Tinggi - Padang - Jambi - Palembang - Bangka - Belitung - Bengkulu</p>
<p>so..bagi yang punya info dari bus/transportasi dari satu kota ke kota lain , tempat wisata, budget hotel, dll..pls kasi tau ya..</p>
<p>atau ada yang sudah pernah overland sumatera, maybe ada tips bagi kami..dan mungkin boleh bantu kami advise / arrange itinerary (jadwal perjalanan) nya..</p>
<p>and bagi yang mau ikut.. <img src='http://www.indobackpacker.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> feel free to contact us..</p>
<p>trus.. maybe ada yang bisa jadi host kami sewaktu kami berkunjung ke kota kalian..we will thank you so much..</p>
<p>Thanks and happy always..</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/indobackpacker/SYIE/~4/xkbZwXBD1t8" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indobackpacker.com/2009/01/backpacking-overland-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.indobackpacker.com/2009/01/backpacking-overland-sumatera/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>
